Mencari Penginapan di Monumen Bom Bali

Sekitar pukul lima atau setengah enam pagi-saya lupa, kami berlima diturunkan oleh sopir angkot di sebuah persimpangan yang menurutnya akhir dari kesepakatannya mengantarkan kami.

"Nah di situ, tidak jauh, kalian jalan lurus saja nanti pasti ketemu jalan poppies," ujarnya dengan logat Bali yang terburu-buru, saya tebak untuk kembali mengambil penumpang di terminal Ubung. Tapi, kan, kami minta diantarkan langsung sampai di depan Poppies Lane!?

 "Iya, terima kasih, ya, Bli," sergah saya ingin cepat-cepat saja menyudahi urusan transportasi ini.

Sesaat setelah turun dari angkot, kepala saya sedikit linglung mencerna apakah saya berdiri di atas trotoar atau memang sebuah jalan yang mirip trotoar, lebih-lebih seperti pedestrian. Susunan batu bata paving block berwarna merah terhampar rapi menjadi sebuah jalan bernama Legian dan sekitarnya. Ini dia. Sebentar lagi. Akhirnya.

Setelah 6 jam naik kereta api dari Stasiun Bangil ke Banyuwangi Baru; 1 jam menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk ditambah adegan perizinan seakan masuk negara bagian serta mengabaikan calo-calo e-KTP; 4 jam naik bus dengan segala dramanya; setengah jam naik angkot dari terminal, dengan total perjalanan lebih dari 13 jam, akhirnya kami tiba hampir di tempat tujuan. Untungnya udara subuh di Jalan Legian benar-benar segar, dan suasananya juga sangat sepi. Saya tebak hiruk pikuk di sini baru saja berakhir beberapa jam yang lalu. Kesempatan untuk paru-paru dan kepala saya agar mendapatkan sedikit kesegaran dan ketenangan yang dibutuhkan. Ketika nanti tiba di penginapan, saya hanya ingin istirahat atau tidur beberapa jam sebelum melanjutkan agenda liburan.

Baca juga drama menumpangi bus di: Bobroknya Angkutan Umum di Bali.

Berbekal bacaan dari beberapa artikel dan unduhan peta sekitaran Kuta-Legian yang entah masih relevan atau tidak, saya menuntun empat orang kawan berjalan penuh percaya diri menuju tempat penginapan di area Poppies Lane yang sudah direncanakan sebelumnya.
Saya yakin kami sedang berada di jalan Legian karena tidak melihat pantai Kuta. Tapi hal ini tak begitu penting karena tempat penginapan kami, Losmen Arthawan yang terletak di Poppies 2 bisa dimasuki melalui jalan legian atau pun jalan kuta, dan lagi semua gang atau jalan di sini saling terhubung. Begitu yang saya lihat dari peta hasil unduhan.

Kami melewati toko-toko, dan bar terkenal satu persatu sambil mencocokkan namanya di peta. Lima menit kemudian nama toko-toko ini mulai tidak relevan. Urutannya acak. Apa yang salah, ya? Mungkin peta ini sudah lama, toko-tokonya berbeda tapi jalannya masih sama. Saya masih berpikir positif dan tidak memberitahukan hal ini kepada teman-teman saya. Biarkan kepala mereka istirahat.
Lima menit berikutnya mereka mulai resah melihat saya yang tak menemukan petunjuk baru setelah bolak balik melihat kanan jalan-kiri jalan-peta unduhan.

"Masih jauh?" akhirnya ada yang bersuara.
"Sebentar lagi sampai," sahut saya.

Selama sepuluh menit berjalan kaki kami melewati beberapa sopir taksi yang sedang sibuk mengobrol, seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan, dan seorang pria yang menyusul kami beberapa kali menggunakan motor menawarkan penginapan dengan harga murah. Saya menolak dengan senyum seramah mungkin "Terima kasih, Bli," karena sudah punya tujuan dan peta hasil unduhan di tangan. Tak terpikir untuk bertanya "poppies 2 masih jauh?" atau lebih spesifik "losmen arthawan di mana ya?"  yang bisa saja dijawab dengan "masuk jalan poppies 2".

Saya harus mencari patokan. Setelah melihat-lihat peta unduhan, saya memutuskan menjadikan Monumen Bom Bali sebagai patokan karena letaknya yang membelah jalan dan pasti akan langsung terlihat, juga paling dekat dengan tujuan. Lima menit berikutnya tak terlihat tanda-tanda patokan yang saya cari-cari.

Monumen Bom Bali-Cerkiku
Monumen Bom Bali.

"Masih lama, ya?" ujar teman saya yang lain.
"Sudah dekat..harusnya."

Melihat saya yang seakan kebingungan, salah seorang teman saya mengusulkan untuk berhenti istirahat dulu. Dan alangkah kebetulannya di sana ada Indomaret yang sedang buka. "Kita ngopi dulu, nenangin diri. Mungkin kita gak fokus karena kecapekan," ungkapnya. Benar juga. Melihat teman-teman yang masing-masing sudah kepayahan dengan carrier berukuran sedang, saya pun menuruti untuk ngopi-ngopi sebentar.

"Bli, dari sini Poppies 2 masih jauh?" akhirnya saya memutuskan bertanya kepada salah seorang karyawan Indomaret dengan logat Bali yang diusahakan dan disahut dengan "enggak," atau "sudah dekat," atau lagi "di sana."
Saya tak benar-benar mendengar dengan jelas sahutannya, dan iya-iya saja.

Hari sudah makin terang. Matahari pasti sudah hampir terbit jika dilihat dari pantai. Setelah mendapatkan energi tambahan dari kopi panas dan selembar roti kemasan. Saya menganggap kami berlima siap untuk berjalan lebih jauh lagi, atau setidaknya sampai menemukan patokan. Beberapa saat setelah menjauh dari Indomaret, saya melihat plang tulisan jalan Poppies I di sebelah kanan. Tanpa ambil pusing saya langsung masuk karena toh Poppies 1 ini juga akan tembus ke Poppies 2. Rupanya efek kafein panas masih belum berakhir. Dengan pikiran yang lebih segar saya mengaktifkan paket data dan memutuskan untuk mengakhiri petualangan semi manual ini dengan membuka aplikasi GMaps-melalui iPhone 4 butut yang sudah di jailbreak dan suka reboot sendiri jika ngambek.
Terpampanglah di sana tulisan Losmen Arthawan yang terletak di Poppies Lane Two dengan amat sangat jelas. Hanya seratus sekian meter atau beberapa menit jalan kaki lagi. Akhirnya. Hampir.

Setelah sampai di Arthawan dan memilih kamar, saya langsung melanjutkan rencana tidur beberapa jam. Akhirnya. Selamat tidur. Selamat liburan.

Monumen Bom Bali-Cerkiku
Monumen Bom Bali pada malam hari, diambil dari sebelah kanan Vi Ai Pi.

Beberapa jam kemudian setelah tidur pagi, saya baru tahu kalau kami diturunkan berlawanan arah dari peta hasil unduhan. Poppies 2 berada tepat di depan Vi Ai Pi, dan Monumen Bom Bali yang membelakangi Indomaret. Iya, Indomaret tempat kami istirahat minum kopi panas, menghimpun tenaga untuk berjalan lebih jauh lagi.

Kawasan Legian mulai ramai menjelang siang. Biasanya dipadati turis-turis mancanegara yang lalu-lalang masuk keluar toko mencari suvenir dan yang langsung menuju pantai Kuta. Cobalah untuk terlihat seperti turis berdompet agar ditawari tanpa mencari. Maksud saya ditawari suvenir dan lainnya, bukan spa.

Jalan satu arah ini mulai sesak oleh motor atau mobil ketika sore hingga malam hari.
Kawasan yang punya jam malam ini seru parah di dua waktu tersebut, apalagi malam hari. Toko-toko akan tutup pada pukul 10 atau 11 malam, kecuali bar-bar tertentu yang akan tetap buka beberapa jam ke depan.
Pada jam tersebut clubbers dari berbagai negara secara teratur menuju bar-bar favorit. Dari yang berjalan sendiri sambil memegang sebotol bir, kelompok pria wanita yang masih kepanasan walaupun menggunakan pakaian minim, atau kesukaan saya yang semuanya wanita remaja yang berbicara lalu tertawa dan terdengar seperti menyapa dalam bahasa rusia, dan ojek-ojek yang ngebut di jalan atau gang kecil sambil membawa dua orang turis remaja sekaligus sambil memainkan gas dan rem tangan. Dem.

*Catatan tambahan: perjalanan ini dilakukan pada November 2016 lalu.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mencari Penginapan di Monumen Bom Bali"

Post a Comment

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Komen dong! Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, ya!