BERNOSTALGIA DI ANTANG (bagian terakhir); Mengumpulkan Kepingan Ingatan

Sebelum sampai di SD, kami terlebih dulu singgah di Mesjid yang letaknya bersebelahan.
Sebenarnya mesjid ini masih dalam tahap renovasi, belum selesai sepenuhnya. Maklum karena proses pengerjaan yang sangat lambat (pelan-pelan) karena biaya renovasi hanya hasil sumbangan warga kompleks di setiap minggunya. Sampai akhirnya harus ditinggal jama'ahnya karena PHK bertahap yang dlakukan perusahaan, sampai akhirnya karyawan habis dan perusahaan PT. APPI ini tutup.

Dari seingat saya tak ada yang berubah dari mesjid ini. Bagian luar dan dalamnya masih sama. Bahkan halaman yang sering dijadikan tempat main bola pun masih tetap sama.
Novi dan Mesjid Al-Muhajirin Antang tampak depan.
Satu persatu ingatan masa kecil saya mulai bermunculan dan tersusun di kepala, flashback! Saya bahagia ketika mengingatnya. Dari belajar sholat di mesjid ini, belajar mengaji, sampai ketika lebih memilih makan asam di samping mesjid ketimbang mendengarkan ceramah ustadz yang bikin ngantuk. Kemudian berlarian karena dikejar dan dijewer oleh anak buah ustadz, hingga masuk ke dalam mesjid sambil cekikikan. hihihi.




Ketika saya kecil, mesjid ini masih berupa kayu. Barulah ketika saya kelas 3 atau 4 SD mesjid ini mulai di renovasi.

Teras sebelah kiri dari mesjid yang sering digunakan untuk berseluncur ketika lantainya basah oleh hujan.

Rumah yang dulunya khusus disediakan untuk guru/ustadz dan pengurus mesjid.

Bagian dalam mesjid.

Mimbar generasi pertama, semoga bukan yang terakhir.
Di samping mesjid ada rumah kaum/pengurus mesjid yang sekarang. Katanya jama'ah mesjid masih ada setiap hari dan setiap minggunya. Karena warga Antang hanya tinggal beberapa kepala keluarga saja, warga Telaga lah yang mengisi shaf-shaf mesjid ini. Kampung Telaga ini letaknya masuk lebih jauh ke dalam lagi. saya sendiri pun selama hidup di Antang rasa-rasanya hanya sekali pernah ke Telaga.


TK Al'Qur'an yang terletak di belakang mesjid.

 Setelah puas melihat-lihat mesjid, saya bergegas menuju SD Swasta Antang yang letaknya persis bersebelahan dengan Mesjid.

SD Swasta Antang.
Bangunan SD yang terlihat pada foto di atas, hanya bagian kantor saja yang masih digunakan. Sedangkan ruang belajar seluruhnya di gabung di bagian sebelah kanan. yang terlihat seperti foto di bawah.

SD Swasta Antang.
Di sini semua memori masa kecil yang pernah saya lupakan terangkat jelas lagi, semuanya melebur jadi satu. Saya mulai bernostalgia...

Di bawahnya dulunya adalah kolam ikan, sekarang sudah kering dan penuh sampah.

Kolam ikan yang sekarang kering dan penuh sampah.

Ruangan kelas yang sudah tak digunakan lagi.

Papan tanda bertuliskan kantor yang tidak berubah sampai sekarang, hanya saja sudah terlihat usang.

Pelajaran favorit saya adalah IPA, Mulok (bhs dayak), Bhs Inggris dan Olahraga yang kegiatannya hanya main bola :D
Lapangan sepak bola yang sudah ditumbuhi rumput liar tebal.
Hari sudah semakin sore, tapi masih banyak yang belum saya lihat. Saya mengajak Novi untuk melihat pelabuhan yang ada di depan. Dan sepanjang jalan saya marah-marah ke Novi karena gara-gara dia akhirnya jadi kesorean dan tidak puas melihat-lihat. 

"kan, jadi kesorean. diajakin dari tadi siang ngeles mulu!"

"ya mana kutahu kalau masih ada yang mendiami Antang." katanya membela diri.

Gara-gara masih ada yang mendiami Antang, kami jadi mampir ke rumah-rumah warga untuk sekadar menyapa dan menjawab salam. Akhirnya kehabisan waktu untuk melihat-lihat. 

huh..kesel! "coba kita tadi berangkatnya siang, gak bakal kayak gini."

Sesampainya di pelabuhan, ternyata security yang jaga di depan adalah ayahnya teman kami Rini. Astaga! Setelah berbincang-bincang, ternyata Rini ada di rumah. Rupanya teman saya ini juga menjadi penghuni terakhir Antang.

Pelabuhan PT APPI dan Sungai Kapuas.

Gajah besi yang sudah tidak lagi menarik tongkang besar.
Kapal-kapal ini hanya dihidupkan seminggu sekali untuk memanaskan mesinnya.

Kantor PT. APPI



Cerobong asap yang tak akan pernah lagi mengeluarkan asap.
Hari sudah mulai gelap, mari pulang..



Ini dulunya rumah saya :D
 Ketika hendak pulang, lagi-lagi kami diminta mampir dulu ke rumah salah seorang warga. Disuguhi minum dan makan, bukannya merasa senang tapi malah merasa was-was karena kami tidak tahu jam berapa ferry akan tutup. Untung saja katanya ferry tutup jam 10, berarti masih ada waktu beberapa jam lagi. Setelah cukup lama bertamu, kami mampir lagi ke rumah Rini teman kami. di sana pun lagi-lagi kami disuguhi makanan dan minuman. Beuh! Bahkan kami malah diminta menginap malam itu,. Dan dengan alasan tidak enak serta tidak bawa pakaian ganti, kami menolaknya.
Cukup lama kami mengobrol sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang karena sudah hampir jam 10. Kami tidak mau ketinggalan ferry hanya karena kaasyikan mengobrol. Dan setelah berpamitan, kami pun pulang, kembali ke kota air.

kerlap-kerlip lampu desa di seberang sungai.
Tamat.


Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "BERNOSTALGIA DI ANTANG (bagian terakhir); Mengumpulkan Kepingan Ingatan"

  1. ahahahaa keren...
    jadi kangen dulu" lagi niih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kangen dulu2 yang gimana nih? Kalo kangen masa kecil, boleh.. Asal jangan kangen mantan. Haha

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Komen dong! Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, ya!