BERNOSTALGIA DI ANTANG

Berawal dari melihat sebuah foto seorang teman di sosial media Sabtu siang: menyebutkan nama ‘Antang’, yang berlatar pabrik tua. Membuat saya menjadi kepo  dan menanyai teman tersebut. Karena kebetulan dia sedang dinas di sebuah puskesmas yang jaraknya lumayan dekat dari desa Antang.


“itu di Antang? orang-orangnya masih ada? jalannya tertutup rumput gak?!” karena terakhir yang saya dengar dari om saya, Antang sudah jadi hutan, dan rumah-rumahnya sudah di bongkar!
“iya, cuman ada satpamnya doang. Enggak kok jalannya semen.”
Jawaban yang membuat saya langsung mengumpulkan niat dan menyusun rencana, untuk menengok kembali tanah kelahiran saya itu. Sudah 11 tahun, sejak kali terakhir saya menjejakkan kaki di Antang.




Dulunya, Antang adalah sebuah desa / komplek perusahaan plywood: Antang Permai Plywood Industry (PT. APPI) di kelurahan Murung Keramat, kecamatan Selat, kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Jadi, semua yang tinggal di komplek ini adalah orang-orang yang bekerja di perusahaan pembuat tripleks tersebut. Dan ayah saya sendiri adalah seorang Grader, yang tugasnya mensurvei, memilih dan mengklasifikasikan pohon mana saja yang akan dibeli oleh perusahaan, sebelum akhirnya didatangkan dan diolah menjadi tripleks.

Saya langsung menghubungi teman yang dulunya juga merupakan penghuni Antang, dan mengajaknya untuk mendatangi tempat itu lagi. Namanya Novi, bisa dibilang ia teman saya dari kecil. Itupun karena sampai saat ini kami masih berkomunikasi dan bertemu. Tidak seperti teman seangkatan SD Swasta Antang yang lain: yang sudah sibuk mengurus anak-anak, suami-istri masing-masing. Walaupun masih ada yang menikmati status singlenya, tapi jarang bahkan hampir tidak ada komunikasi untuk sekadar say hai! Apa kabar? Bla bla.. Yah, paling banyak hanya 6 orang termasuk kami berdua. Sekarang perempuan 23 tahun lulusan S1 Bahasa Inggris itu tinggal seorang diri di Banjarmasin, demi mengejar karir -katanya-.

“ada nadzar apa ndy’ jadi tiba-tiba pengin ke antang?” tanyanya.

“gak, cuman pengin nyari ari-ari yang di kubur di bawah pohon asam di klinik dulu. Hahaha”

"wahaha. kebetulan, aku juga kangen sama Antang."

Setelah cukup berbasa-basi, dan melihat jadwal kesibukan masing-masing, akhirnya diputuskan untuk berangkat hari Rabu pagi. Hanya 1 hari, tanpa menginap. Ok!

Untuk sampai ke Antang hanya dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Sekitar 45 menit dari rumah saya di Sekumpul, Martapura menuju ke Banjarmasin untuk menjemput Novi. Kemudian sekitar 1 jam lagi melanjutkan perjalanan menuju ke kota Kuala Kapuas, sebelum akhirnya sampai ke Antang dengan tambahan waktu 15 menit.

Bagi yang tidak tahu di mana itu Kuala Kapuas, ambil saja jalan arah ke Palangka Raya. Jalurnya sama, jadi pasti akan melewati Kota Air ini. Dari Banjarmasin, ambil arah ke Handil Bakti, kemudian terus sampai bertemu perempatan: Kuala Kapuas – Palangka Raya (kiri), Marabahan (Lurus), Liang Anggang – Banjarbaru (kanan). Belok kiri naik jembatan kecil, jalan terus sampai kemudian naik jembatan besar berwarna kuning yang melintasi sungai Barito: jembatan Barito, yang menghubungkan KALSEL dan KALTENG.

Selasa siang, Novi mengirimi saya pesan kalau besok pagi ia mendadak ada urusan! Buru-buru saya menelfonnya untuk mengkonfirmasi bagaimana dengan rencana berangkat ke Antang besok pagi?! Ngeselin! Ia mengusulkan berangkat siang dan menginap semalam. Oke, tak mengapa. Saya juga sudah lama tidak bermalam di rumah om saya di Kapuas.

Setelah hampir sampai di Kuala Kapuas, ada dua cara yang bisa dicoba untuk benar-benar sampai ke kota ini. Pertama, lewat jalur utama: jalan rayanya yang melewati jembatan Pulau Petak yang melintasi sungai Kapuas. Atau, yang kedua: naik ferry dan melintasi sungai Kapuas secara langsung! Saya sendiri lebih suka naik ferry. Karena selain lebih dekat ketimbang sedikit memutar melalui jembatan Pulau Petak, juga bisa menikmati angin yang bertiup sepoy-sepoy dari atas ferry.
Apabila melihat gerbang pancang dengan ukiran motif dayak bertuliskan selamat datang, berarti sudah akan memasuki kota Kuala Kapuas. Sebelum jembatan kecil pertama, belok kiri untuk naik ferry. Tapi ferry ini sudah tidak diperbolehkan mengangkut kendaraan roda empat / mobil, hanya untuk kendaraan roda dua dan pejalan kaki saja.     

Rabu, 19 – 08 – 2015
Waktu menunjukkan pukul 12:10 saat kami tiba di dermaga. Tak menunggu lama, ferry yang akan membawa kami ke seberang sudah sampai. Soalnya ferry ini tidak dijalankan hanya satu unit saja, melainkan dua sekaligus, kadang kalau lagi padat bisa tiga unit rolling. Saat ferry yang satunya berada di seberang, yang satunya lagi berada di seberangnya dan kedua ferry akan berpapasan di tengah sungai. Cukup membayar retribusi Rp.2.000,- saja sudah bisa menyeberang. Ferry ini beroperasi dari pukul 6 pagi sampai jam 11 malam.

Ferry telah tiba :D

Duduk duduk dulu, sambil liat pemandangan kota di pinggir sungai juga bisa.

Disediakan life jackets, jika terjadi suatu hal yang tak diinginkan.
“kita langsung ke Antang??” Tanya saya yang sudah tidak sabar untuk segera menjejakkan kaki di sana.

“nanti, temenin aku ngurus yang lain dulu.”

“baiklah.” Oke..

Udah hampir sampai ke seberang. Dermaganya terletak tepat di samping pasar tradisional.


Setelah cukup puas bolak-balik mengantarkan Novi dengan urusannya, saya siap untuk langsung pergi ke Antang.

“bagaimana? Kita ke Antang sekarang?”

“entar lah. Abis ashar aja sekalian. Lagian mau ketemu siapa ga ada penghuninya.”

“..iya sih. Baiklah..” Rupanya saya masih harus bersabar.

Saya mengantarkan Novi ke rumah singgah, (rumah tantenya.) Meski ditawari untuk istirahat dan makan disana, saya lebih memilih ke tempat om saya yang jaraknya sangat dekat. Setelah berpanas-panasan dan badan sudah terasa lengket karena keringat, mengguyur diri dengan shower adalah solusi terbaik untuk merecharge ketampanan tenaga saya. –selain makan-

Waktunya ke Antang!

Untuk sampai di Antang, lagi-lagi kami harus naik ferry. Tapi, bukan kembali ke tempat awal kami menyeberang tadi, melainkan ke pulau yang ada di sisinya lagi, karena letaknya di pulau yang terpisah. Ferry-nya pun hanya yang berukuran kecil, yang maksimal mengangkut 15 – 20 sepeda motor. Kali ini kami menyeberangi pertigaan sungai Kapuas yang membelah kabupaten Kapuas. Tidak ada jembatan untuk menuju desa kecamatan Selat, Murung Keramat ini.

Nah, ini dia ferry-nya :))


Ada rasa gugup ketika saya akan menaiki ferry ini lagi. selain karena bentuknya yang jadi semakin kecil (padahal saya saja yang sudah bertambah besar, bukan ferry-nya yang jadi kecil.) juga karena gelombang sungai yang sore itu sudah mulai besar karena angin yang terasa bertiup kencang. Bahkan ketika di atas ferry pun saya tidak berani meninggalkan motor saya, soalnya ferry-nya terombang-ambing oleh gelombang. Lebih baik berjaga-jaga daripada motor saya jatuh atau malah nyemplung ke air. Kalau ada yang coba-coba nerbangin drone, udah pasti nyungsep ke sungai ini…
bukan ke seberang sana ya, tapi ke seberang sisi sebelah kanan.
Meskipun gugup, entah kenapa saya terus tersenyum sambil menahan tawa. Mungkin karena geli dengan rasa gugup saya sendiri yang sudah tidak terbiasa dengan gelombang. Pas di tengah sungai, gelombang yang tadinya mengkhawatirkan sudah berubah menjadi menyenangkan. Gelombangnya sudah mulai tenang.

Anak-anak yang pulang dari sekolah.

Tak terasa hampir 10 menit sudah saya berada di atas ferry. Saya kembali gugup ketika melihat dermaga kecil tempat ferry bersandar yang bentuknya tak berubah dari dulu ini. Bukan karena takut. Melainkan karena membayangkan apa yang ada di depan sana. Saya tak berekspektasi macam-macam, hanya menyiapkan diri dengan hal-hal yang berubah dan kejutan-kejutan yang akan saya temui.
Deg-degan. :D


Sudah sampai, tapi petualangannya baru dimulai.

Aku pulang.

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "BERNOSTALGIA DI ANTANG"

  1. Ditunggu lanjutan cerita di Antang. Penasaran Antang kayak apa sih suasananya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca, Wijna. Sekarang kamu sudah bisa membaca kelanjutannya.

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Komen dong! Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, ya!